Thursday, October 26, 2017

A Circle of Miracles

When I see my dad, I see miracles.
When I questioning if miracles do exist or not, I see my dad.

Dad 10 years ago: Maybe I would not see my youngest daughter graduate. I would not be in this earth anymore.
Dad now: Still video call with my little sister.

Dad 20 years ago: Don't sing any song with Jesus' name in it.
Dad now: Always do quick prayers before meals.

Friday, September 22, 2017

Tekanan Udara Dalam Pesawat Membuat Air Mata Lebih Mudah Jatuh?

Dua kali pulang traveling naik pesawat, dua kali pula gue nangis di pesawat.

Tahun lalu, tepatnya setelah tragedi ketinggalan pesawat, gue nangis di udara Seoul menuju Jakarta. Kali itu air mata jatuh bukan karena ketinggalan pesawatnya. Bukan. Tapi karena baca sebuah email. Ceritanya bisa dibaca di post ini.

Tahun ini, gue nangis di udara Taipei menuju Jakarta.
Dipicu oleh sebuah video call dengan seseorang yang membuat gue semakin sadar kenyataan tuh gak seindah caption-caption Instagram. Well, sebelumnya udah sempat mellow karena harus berpisah jarak dengan sahabat dekat sih. Gue merasa gue gak punya banyak sahabat seperti sahabat dekat gue ini, dimana dia punya tingkat kegilaan yang sama dengan gue. Lalu kami berteman jarak jauh lagi. Sedih.

Kembali ke soal pemikiran pribadi gue setelah video call itu. Gue sempat kecewa dengan doa-doa yang gue rasa belum dijawab. Gue kecewa karena gue gak tahu lagi jalan kemana. Gue kecewa karena gue bingung. Gue bingung sama Dirimu lah Tuhan!

Sambil menghadap ke jendela pesawat, hmmm, gue berkaca pada diri sendiri sambil membasuh mata yang berkaca-kaca. Gue pun coba buka email subscription yang membuat gue nangis tahun lalu. Dan tulisannya hari itu adalah....
When our dream is delayed, it causes us to forget many things. We tend to forget our dream. We forget what God has done in our lives and his goodness to us in the past. We forget that God is with us. We forget God’s power.
God may not have fulfilled the promise in your life because he’s waiting on you. He’s waiting on you to learn to not fear, not fret, not faint, not forget. He wants you to learn that before he delivers you. 
...The Bible says to trust God’s timing: “Rest in the Lord; wait patiently for him to act. . . Don’t fret and worry — it only leads to harm” (Psalm 37:7-8 TLB).
Sebuah jawaban, yang menenangkan. Sebuah penghiburan. Ya udah, makin becek lah jendela seat gue. Ibu di sebelah sampai pindah seat. Aseli.

Kalau gini caranya, gue mau sering-sering traveling ah, biar nangis lalu bahagia. Mungkin tekanan udara dalam pesawat bisa membuat air mata lebih mudah jatuh, dan memicu produksi hormon endorfin lebih banyak.

Canadian Rockies from top. Photo by yours truly.

Mimpi 21 September

Naik perahu, di perairannya ada hiu, ikan gede-gede semacam ikan kerapu, dan juga macan.
Sambil ditelpon sama seorang cowo yang lagi suka aku, padahal aku udah punya pacar.

Tuesday, September 5, 2017

Mimpi 24 Agustus 2017

Mimpi aku mau bunuh diri -_____-
Ambil 2 kabel listrik, lalu disentuhin ke tangan sendiri.
Ada yang berusaha narik tangan aku, tapi aku mau tetap bunuh diri.

Thursday, August 31, 2017

#TIL From the Past

We met people for reasons; for a blessing or a lesson. Here, I try to log things I learned from some people that crossed my path in the past.

In 2004, I learned that I should not take something/ someone for granted
In 2010, I learned how to be patient (obviously) and I realized that I cannot change people
In 2015, I learned that I need goals and determination in this life
In 2016, I learned to live happily without burden, and always go for what I want

*) #TIL: things I learn


Photo by yours truly

Saturday, August 12, 2017

Mimpi 12 Agustus 2017

Mimpi lagi mau ke Kep Seribu naik kapal (semacam kapal kecil nelayan), tapi pas lagi nyebrang pulau pengen sambil berenang di pinggir kapal. Belum sempet berenang jauh, tiba tiba keliatan ada sirip hiu. Aku panik, aku teriak "ada hiu, ada hiuuu!" sambil berusaha naik ke atas kapal tapi ga bisa naik. Ga dibantuin naik kapalnya juga.                      

Lama-lama sirup hiu itu semakin mendekat. Ketika sudah makin dekat, aku jadi bingung itu sirip hiu atau lumba-lumba ya? Lalu kebangun.

Monday, July 3, 2017

Kulit Mati

Gue cukup rajin mengaplikasikan masker wajah. Dulu sukanya yang ala Korea, face sheet. Lalu beralih ke yang agak mahal, yang harga satu jar nya bisa satu juta rupiah. Tapi paling suka sih malah yang murah, yang back-to-basic, yaitu pakai oatmeal.

Tujuannya pakai masker untuk mengangkat kulit mati, membersihkan kotoran wajah yang sulit dijangkau oleh face cleanser. Supaya gak jadi jerawat, gak jadi komedo, gak kusam. Biasanya gue pakai maskeran di Minggu malam.

Suatu hari, saat gue lagi maskeran, gue sadar. Selama ini gue ada usaha untuk hilangin itu kulit-kulit mati di wajah gue. Gue rela beli masker dari yang murah sampai mahal. Gue sisihkan waktu tiap minggu untuk oles-oles masker. Beberapa kali gue tolak ajakan pergi malem dengan alasan, "duh lagi maskeran nih". Terus, kenapa gue gak melakukan hal yang sama dengan kehidupan gue? Kenapa?

Kalau diibaratkan, orang-orang gak penting, komentar-komentar gak penting, pikiran-pikiran negatif, itu adalah 'kulit mati' di hidup, gue juga harus ada usaha untuk menghilangkan itu secara RUTIN. Ya supaya hidup gue tetap bersinar, jalannya mulus, gak ada 'jerawat' yang menyakitkan dan bikin bete berhari-hari.

Kapan terakhir kali mute timeline yang bikin hidup gue gelisah? Kapan terakhir kali berani bilang kalau gue terganggu dengan bercandaan sensitif? Kapan terakhir kali gue gak mau gubris chat dari orang yang dulu cuekin gue? Kapan terakhir kali gue pikirin hal-hal baik daripada pikirin hal yang bikin sakit kepala?

Jangan deh itu kulit-kulit mati kehidupan dikasih tempat untuk beradaptasi dan berlama-lama bertimbun terus memberatkan hidup.

Maskeran, yuk!

Bonus foto: