Friday, April 16, 2010

Mengeluh, Introspeksi, Solusi

Jangan tanya apa yang dunia sudah berikan pada kamu, tapi tanya apa yang sudah kamu lakukan untuk dunia.
Klise. Frase ini sering digunakan sebagai jawaban ataupun tameng atas keluhan-keluhan.
Klise. Tapi pernyataan ini benar seratus persen.

Mengeluh.
Siapa yang tidak pernah? Wajar. Semua orang berhak mengeluh dan boleh mengeluh. Hmm, tapi sebentar dulu. Berhak? Sepertinya semua orang tidak berhak untuk mengeluh. Oke, saya ralat langsung. Semua orang boleh mengeluh, tapi tidak semua orang berhak mengeluh.

Sebagai warga Jakarta, kerap kali dan sudah seperti menu sehari-hari untuk kita semua mengeluh, termasuk saya. Banyak alasan yang diberikan Jakarta untuk kita mencaci maki. Kalau mau dibuat list nya, mungkin bisa ratusan ya.. Dengan senang hati, kita akan menulis list keburukan Jakarta atau lebih luasnya, Indonesia, dengan mudah. Bahkan sambil menertawakan.

"Banyak sampah!"
"Banjir terussss!! Dikit-dikit langsung banjir!"
"Macet! Angkot keparat!"
"Bau banget ini jalanan, mana sih tukang sampahnya!?"
"Panas banget Jakarta! Polusinya gila-gilaan! Mau pindah aja dari Jakarta!"

Familiar dengan caci maki ini? Ahh, mungkin Anda bisa lebih kreatif daripada saya untuk soal mencaci-maki Jakarta. :)

Tapi pernahkah Anda dan saya berpikir bahwa, kita menjadi salah satu penyumbang munculnya caci maki seperti di atas?
Coba hitung, berapa kali dalam hari ini kita membuang sampah sembarangan?
Coba hitung, berapa kali kita lebih memilih membawa kendaraan pribadi dibanding kendaraan umum?
Coba ingat-ingat, kapan terakhir kita memikirkan kebaikan untuk kota yang kita tinggal ini?

Saya termasuk orang yang sangat menghindari buang sampah sembarangan. Tidak responsible. Itu alasan saya. Makan sebungkus roti dengan lahap, lalu membuang plastiknya di pinggir jalan? Mungkin orang lain akan berpikir, "akan ada petugas kebersihan yang membersihkannya", atau "nanti juga tertiup angin". Haha. Kalau semua orang di dunia ini berpikir seperti itu, mungkin dunia ini sudah bukan tempat tinggal manusia lagi, tapi menjadi kerajaan tikus dan lalat hitam. Hiyy!

Selain itu, saya juga sudah terbiasakan di keluarga untuk hidup sehat, bersih, bermanfaat. Jarang sekali keluarga saya membuang sampah sembarangan. Terima kasih, Tuhan! :)

Lalu apa ada cara mudah untuk mengatasi kebiasaan buang sampah sembarangan itu? Sebelumnya, ingat yaaa, buang sampah sembarangan bukan cuma bikin lingkungan kotor tapi juga banjir! Saya rasa saya tidak perlu menjelaskan mengapa buang sampah sembarangan bisa bikin banjir, hahaha.
Oke, balik lagi. Cara mudah yang biasa saya lakukan adalah: 'menyimpan' sampah.
Bungkus permen, tissue bekas, plastik roti, dan apapun itu, akan saya simpan di kantong celana, di tas, di mobil, atau dimanapun ada tempat. Setelah saya bertemu tempat sampah, baru saya akan menyampah semua sisa produksi saya itu, hehehe. Easy! Emang sih kadang tas dan kantong celana saya jadi suka banyak sampah. Tapi saya pikir lebih baik begitu daripada saya membuangnya sembarangan.
Apa anda mau coba juga? :)

Lainnya, saya (dan keluarga) sudah terbiasa untuk menolak pemakaian kantong plastik yang berlebihan di supermarket. Bahkan kalau bisa engga pake kantong, ya engga usah pake kantong. Berlebihan adalah tidak optimal. Hehe. Jika dalam 1 kantong plastik bisa muat 10 item, tapi cuma diisi 5 item, berlebih 1 kantong donk? Sayang. Mending dipake untuk keperluan lain. Soal pengelolaan scientific nya sih saya mungkin engga bisa jelasin ya. Tapi tau donk kalo kantong plastik itu sangat susah diurai di tanah?

Hal-hal kecil seperti ini kelihatannya sepele, remeh temeh, tapi efeknya besar.
Sebenarnya post serupa ini sudah pernah saya buat di sini.

Intinya sederhana sih; kalau kita bisa mengeluh soal banjir dan sampah (atau apapun itu keluhannya, baik di keluarga, studi, kerjaan), ada baiknya kalau kita juga menjadi solusi dari keluhan itu.
Plus nya, kita jadi berhak untuk mencaci masalah banjir dan lainnya di Jakarta! Hahahaha, yang ini bercanda dehhh! :p

Jika kita berani mengeluh, beranilah juga untuk introspeksi dan menjadi solusi!

No comments: