Monday, August 30, 2010

A Letter of Luck

03:03 AM - I forgot how to fall asleep and I couldn't find the manual book! Errhh.

Anyway, few days ago I started thinking that I had no enough luck like others have in such thing called competition, quiz, lucky draw, or else.

Any above-mentioned things I participated, sadly I never won one. Lucky draw at mall, free travelling promo, (one) quiz on Twitter, and et cetera. Frankly speaking, when I decided myself to participate in those, my heart (eww) was fully convinced that I would win out of all other 'contestants', if I may say.

As a result, my memory gave a signal that I don't have luck in those competitions! Phew...

But then the angelic side of Elvira whispered me something. She said, "It's not about luck, Elvira. It's about God's grace. He doesn't trust you in all those things but He loves to show the thing so-called luck in other hidden 'competitions'. Be grateful.. You don't need those lucks."

But God... I'd like to prove myself that I'm qualified. Hmmm
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Saturday, August 21, 2010

13 Agustus 2010, Mungkin atau Pasti

Jumat, 13 Agustus 2010
8:18 WIB

Pagi cerah, sederet rencana panjang sudah disusun rapi Era, wanita muda yang hampir menamatkan kuliah, sedang melanjutkan kuliah tingkat atas, dan mendedikasikan dirinya di sebuah pekerjaan. Mobil birunya dikendarai dengan kecepatan sedang menuju Sudirman, "Aku harus menyelesaikan semua urusan skripsi hari ini, lalu kulanjutkan separuh hari ini bekerja di kantor". Di tengah perjalanan, 'Friday the 13th' melintas di benaknya, "Astaga! Jangan, hari ini kau angka 13 jangan coba-coba rusak hari ku!" Lima menit kemudian, sebuah tweet di akunnya muncul "Great morning! Today's Friday the 13th? Uh oh don't try to ruin my #skripsweet day, monstaaa!"


10:11 WIB

Perjalanan 40 menit ke Sudirman ternyata berbuntu kekecewaan.
Satu lembar kertas yang penting untuk mengurusi skripsinya hari itu tertinggal di rumah.
"Oh tidakkk... Masakkan pagi hari begini kau sudah mulai beraksi, 13?"
Alhasil, Era kembali menancap gas mobilnya, pulang, demi si satu lembar kertas.


14:25 WIB

"Jam segini aku masih di Benhil, skripsi2 ini belum selesai dijilid spiral! Sedangkan dua jam lagi, tumpukan kertas penentu masa depan kuliah ini harus sudah ada di tangan petugas Thesis Bureau," ucapnya dalam hati.
Sang pria Capricorn yang sedang bersamanya menanyakan mengapa Era terlihat gelisah, "Ada apa dengan kamu?". Era hanya menggeleng, "Tidak.. Aku hanya khawatir". Ia berdoa, sesekali menghela napas, membungkus jantungnya yang berdegup kencang, dan berusaha berlaku tetap tenang.


16:05 WIB

"Renn!! Ini pinjamlah dulu charger laptopku! Duduk di sebuah restoran dan cepat selesaikan setting-an skripsimu... Soal kapan kau kembalikan chargernya, sudah nanti saja.." Era senang setengah mati ketika ia bertemu sahabatnya yang sedang kelimpungan di Benhil, sebuah tempat printing dan fotokopi ternama di bilangan Jakarta Pusat.


16:15 WIB

Lega. Akhirnya Era tiba di kampus. Ia segera menuju ruang kerja Arpa, seorang dosen di kampusnya.

Tok tok... "Excuse me, sir. *hhhsshh* I.. want.. to take my certificatehhh.." nafasnya terengah-engah. "Ok, sit down, what's your name? What certificate you want to take?" Si dosen yang bertubuh besar, berkulit coklat gelap ini tersenyum sangat ramah. Era menyebut nama panjangnya dan dosen Arpa mencari di kertas absen seminar untuk mengecek apakah Era memang berhak mendapatkan sertifikat seminar yang ia ajar.

"All right Era.. I will make a copy for you. Can you spell your name?" Dia mengetik nama panjang Era yang terdiri dari 3 kata, lalu mengklik tombol Print.
"Era.. Before you go, I have a question for you. Are you a Christian?"
"Yes, sir.." Era mulai curiga, ada apa ini!
"Apakah kamu percaya, setiap orang akan menemukan jodohnya yang terbaik? Mungkin atau pasti?" Era kaget bukan main. Dia mulai menyalahkan si angka 13, ah kenapa lagi kamu tiga belas? Kenapa aku tiba-tiba diperhadapkan dengan pertanyaan ini.
Sambil mencoba berpikir.. Era menjawab ragu, "Mung..kin..". Ya, mungkin. Tidak semua orang menemukan jodoh terbaiknya! Buktinya ada banyak orang yang kawin cerai!


Dosen Arpa membalas, "Saya beritahu yang pasti. Do you see my family over there?" Beliau menunjuk sebuah pigura kecil yang terbuat dari kayu ukuran 4R yang ada di samping Era. "Sejak menikah dan sejak anak-anak saya masih kecil, saya sudah berdoa... Tuhan, berikanlah jodoh yang terbaik untuk anak kami. Dan kemudian anak saya yang pertama menikah dengan pacar pertamanya! Coba lihat pria yang berbaju biru itu, anak saya yang kedua... He only has one sweetheart in his life. Anak saya yang terakhir, menikah dengan pacarnya yang kedua!"

Era tergelak, kagum.

"Kamu percaya kan bahwa segalanya telah direncanakan ........."
"Allah sebelumnya," Era langsung menimpali.
"... semua yang terbaik untuk anak-anakNya. Masa jika kamu berdoa untuk yang baik dalam hidup kamu, dia tidak akan memberi? Kehendak Nya terjadi. Nah sekarang bagaimana tahu dia inilah yang Tuhan kasih? Bayangkan ada lima pria di depan kamu, yang mana yang terbaik menurut kehendakNya? Coba pikir... Apakah Tuhan tidak akan membantu kamu mempertemukan dengan pria itu? Apakah Tuhan tidak akan membantu memberi perasaan suka dengan pria itu?"

Era hampir menangis. Kali ini dia tidak menggerutu pada si tiga belas. Ia bergumam dalam hati, Tuhan... Kau pakai Arpa hari ini untuk mengingatkanku pada hal ini. Era hanya mengangguk, selalu tersenyum dan beberapa kali kata "Yes...", "You are right, Sir" keluar dari bibirnya yang mulai kering kehausan.

Tak lama, handphone Era berbunyi, "Dimana kamu?" dan percakapan beberapa detik di telepon memberhentikan percakapan Era dengan Arpa.

Percakapan berlanjut. "Sir.. Why are you telling me this?" tanya Era penasaran, berharap dosen Arpa tergelak lalu berkata Saya dapat melihat apa yang kamu rasakan.
Tapi ternyata tidak, dosen Arpa kembali berkata bijak namun sangat sederhana, "Because I have happy family, and happiness should be shared. Saya ingin kamu keluar dari ruangan ini dan memetik sebuah pelajaran. God bless you!"

"Oke, Thanks Sir.... God bless you too!" senyum Era terlukis sangat lebar, hatinya seperti baru saja disiram air sejuk. Dalam hati dia ingin terus berbincang dengan dosen Arpa, tapi waktu pengumpulan skripsi sudah kian dekat. Dosen Arpa lalu tertawa, "See?? Now I am blessed too, because you said God bless you!"

Era keluar dari ruangan. Seluruh kelelahan yang ia alami di Jumat 13 Agustus 2010 ditutup dengan pelajaran penting dari seorang dosen yang hanya pernah satu kali ia temui di kelas. Era mengunci baik-baik pesan dari Tuhan yang disampaikan melalui dosen Arpa. Ia kembali ke rumah, meletakkan setiap pelajaran itu di bawah bantalnya dan berjanji untuk tetap dengar dan taat dengan apa yang Tuhan nya berikan.


Minggu, 15 Agustus 2010

Era mendapat kabar, ternyata dosen Arpa dapat melakukan semacam membaca pikiran.