Monday, January 10, 2011

Oma Idaman

Dua oma duduk di sebelah kananku, dan seorang bapak duduk beberapa bangku di depanku dengan tongkat di sampingnya. Kebaktian sesi 2 memang kebanyakan isinya oma opa, dan kali ini aku ke gereja sendirian.

Bau khas dari oma-oma itu engga jarang menghampiri saya. Saya mencoba memaklumi dan yaaa sesekali menahan napas. Walaupun mereka udah tua, mereka tetap membawa Alkitab masing-masing, berusaha mengikuti pembacaan ayat demi ayat, bahkan oma di paling ujung membuat catatan khotbah. Duh, saya udah lama banget ga bikin catatan khotbah! :(

Duduk di antara mereka membuat saya berimajinasi kalau-kalau saya pindah tubuh menjadi mereka. (Ah ini pengaruh film nih ya? :p) Saya beruban putih, kulit keriput, agak bungkuk dan membawa saputangan yg diselipkan di dalam baju. Yang saya bayangkan adalah, bagaimana perasaan saya sebagai oma yang melihat anak-anak muda, atau mungkin anak dan cucu saya? Apa saya akan merasa diacuhkan, 'terbelakang' karena sudah engga modern lagi, atau sedih karena ingin muda lagi? :) Apalagi saat muda seperti sekarang, pengennya eksis, dikenal sbg wanita modern dan update. Lahh kalo udah jadi oma, mana bisa up-to-date lagi kan... Pasti saya sedih dan merasa kalah deh.

Lalu, apa ya isi hati oma di sebelah saya tadi ketika melihat saya yang berpakaian lebih modern dari dia, sesekali mengintip BlackBerry, dan sering kelewatan ayat mana yang sedang dibaca? "Dasar anak muda..." atau "Andai aku masih muda seperti dia..."

Mulai sekarang dan mumpung masih muda, sepertinya saya udah harus mengumpulkan cerita-cerita dan inspirasi yang bisa diteruskan ke buah hati saya. Tentunya saya udah harus mulai 'nabung' kesehatan juga biar bisa bersama mereka... Dan anak, cucu saya tentu akan bilang, "Oma ku dulu eksis banget, update, hebat, multitalenta, sayangnya sekarang dia makin bawel dan makin banyak maunya!"

Sent from Elvira's Telkomsel BlackBerry®