Thursday, February 24, 2011

Hocus FOCUS Phocus!

Saya kesal setengah mati ngeliat 3 nilai subject kelas Master saya cuma B. Iya, tiga-tiganya B! Makin tambah dongkol lagi, waktu saya ngecek nilai temen-temen sekelas, dan hasilnya nilai saya lah yang terendah karna mereka pasti ada nilai A nya. Tidaaaaakk! Saya kalah bukan cuma dengan satu dua orang tapi sekitar sepuluh orang, termasuk seseorang yang saya jadikan parameter kompetisi nilai. Ah.. Buat apa bayar mahal dan ke kampus kalau nilai Master nya engga memuaskan!

Saya pulang, nyetir mobil, dan saya nangis. Perjalanan capek, macet, kurang tidur, bayar uang kuliah, semuanya rasanya sia-sia. Ya walau saya jujur akui, di semester ini saya yang paling ignorance di antara semua penghuni kelas Marketing-IVA-Hons. Yang lain sibuk nyari teori buat mini research, saya ulur-ulur waktu dgn alasan lupa. Dua ujian pun saya keluar yang paling cepat. Engga cuma itu, dalam beberapa bulan, pikiran dan energi saya cukup tersita oleh satu dua hal.

Setelah selesai flashback, tidur, dan besok paginya balik beraktivitas ke kantor. Perjalanan 30 menit pagi tadi menyadarkan saya; saya terlalu hidup memikirkan hal yang mengawang-awang, berkhayal, mengharap dan mikirin "Ini baik engga ya buat saya? Gimana caranya biar saya cepet selesaiin masalah ini???". SAYA KEHILANGAN FOKUS, TEMAN! Lensanya malah dipakai buat ngeliat hal yang jauh-jauh, dan 'present' saya terbengkalai.

Saya enggak pengen salahin siapa dan apapun, ini murni tanggung jawab saya. Engga mudah sih buat engga melakukan hal itu lagi, tapi seenggaknya saya sadar: Planning for the future is important, but Focusing on the present may bring me to the better future. Do the best today.

Satu semester lagi masih ada, dengan dua mata kuliah dan thesis! Yes, the bloody thesis is coming! Cum-laude dan laude laude lainnya jelas udah jauh dari tangan saya. Tapi dua nilai A masih bisa saya kumpulin di dua mata kuliah selanjutnya! Doakan!



Sent from Elvira's Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, February 22, 2011

Perbedaan. Penderitaan.

Kalimat klise yang sering saya dengar adalah: PERBEDAAN ITU INDAH. Ya, hidup di Indonesia dengan masyarakat yang multikultural membuat saya hidup dengan bualan terindah tersebut. Etnis, agama, latar belakang, prinsip, dan adat istiadat yang jumlahnya begitu banyak namun hidup dalam satu deret kepulauan memang adalah hal yang menakjubkan. Sehingga kebanyakan orang mempercayai dan menularkan bahwa, "Perbedaan itu lah yang membuat indah..." Seperti pelangi, kata mereka.

Setidaknya dua kali belakangan ini saya merasa ternyata perbedaan itu memang indah, tapi hanya untuk mereka yang melihat, bukan kepada si pembeda.
Lukisan akan jauh lebih menarik dengan perpaduan elemen warna dan corak yang menghias, begitu juga dengan musik begitu elegan dengan campuran not-not. Tapi pernahkah berusaha menjadi mereka? Putih merasa asing di kumpulan warna hijau lemon sampai hijau toska, si bulat berdiri malu di antara kotak dan segitiga, sedangkan si agama A bersedih tidak bisa menikah dengan si agama C.

Kesimpulan saya, perbedaan itu memang indah tapi terkadang hanya untuk dilihat, bukan untuk si pembeda. Dan tidak semua perbedaan menjadi indah ketika bersatu.

Maafkan saya, jika kamu punya bukti dan kepercayaan berbeda dengan si 'perbedaan' itu. Saya bukan bermaksud pesimis, menjatuhkan, atau membuat teman lain putus asa. Lagipula, berbeda pendapat itu indah kan? Selamat menikmati konsekuensi perbedaan...!













Sent from Elvira's Telkomsel BlackBerry®

Tuesday, February 1, 2011

Telapakmu


Darimana datangnya rasa rindu?
Setelah ku telisik jejaknya,
ternyata ada di bawah sentuhan telapakmu.