Monday, July 3, 2017

Kulit Mati

Gue cukup rajin mengaplikasikan masker wajah. Dulu sukanya yang ala Korea, face sheet. Lalu beralih ke yang agak mahal, yang harga satu jar nya bisa satu juta rupiah. Tapi paling suka sih malah yang murah, yang back-to-basic, yaitu pakai oatmeal.

Tujuannya pakai masker untuk mengangkat kulit mati, membersihkan kotoran wajah yang sulit dijangkau oleh face cleanser. Supaya gak jadi jerawat, gak jadi komedo, gak kusam. Biasanya gue pakai masker wajah itu di hari Minggu malam.

Suatu hari, saat gue lagi maskeran, gue sadar. Selama ini gue ada usaha untuk hilangin itu kulit-kulit mati di wajah gue. Gue rela beli masker dari yang murah sampai mahal. Gue sisihkan waktu tiap minggu untuk oles-oles masker. Beberapa kali gue tolak ajakan pergi malem dengan alasan, "duh lagi maskeran nih". Terus, kenapa gue gak melakukan hal yang sama dengan kehidupan gue? Kenapa?

Kalau diibaratkan, orang-orang gak penting, komentar-komentar gak penting, pikiran-pikiran negatif, itu adalah 'kulit mati' di hidup, gue juga harus ada usaha untuk menghilangkan itu secara RUTIN. Ya supaya hidup gue tetap bersinar, jalannya mulus, gak ada 'jerawat' yang menyakitkan dan bikin bete berhari-hari.

Kapan terakhir kali mute timeline yang bikin hidup gue gelisah? Kapan terakhir kali berani bilang kalau gue terganggu dengan bercandaan sensitif? Kapan terakhir kali gue gak mau gubris chat dari orang yang dulu cuekin gue? Kapan terakhir kali gue pikirin hal-hal baik daripada pikirin hal yang bikin sakit kepala?

Jangan deh itu kulit-kulit mati kehidupan dikasih tempat untuk beradaptasi dan berlama-lama bertimbun terus memberatkan hidup.

Maskeran, yuk!