Tuesday, January 2, 2018

Pertanyaan Tersulit Untuk Dijawab (Beserta Jawabannya)

Pertanyaan:"Gimana caranya stay happy kayak kamu? Kayak ga terganggu oleh sekitar kamu gitu."
Jawaban: "Hah? Baru ketemu orang yang bilang gue happy. Biasanya dibilang jutek, galak."
Kenyataan: Pertanyaan tersebut kurang tepat. On the outside, I may look calm. Inside, I hold the storm not to wash away my days. Kalau kata seorang psikolog yang kenal gue, gue adalah tipe orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain sehingga membangun boundaries dengan cara cuek, dingin, galak, sebelum kenal lebih dekat. Mungkin di sana lah sebagian orang beranggapan gue hidup tenang.


Pertanyaan: "Sekarang beda ya? Aku senang deh kamu sekarang banyak tawa tawa kalo foto hahahaha."
Jawaban: "Masa sih? Yang mana coba?"
Kenyataan: Mungkin benar. Gue sekarang lebih mau bergaul sana-sini. Gue berusaha lebih membuka perspektif dan merendahkan hati. Foto-foto ekspresi tertawa itu bisa jadi spontanitas dari dalam hati. Seperti yang gue pernah tulis sebelumnya di post ini, gue memang merasa lebih bahagia dari definisi bahagia gue sebelumnya. Puji Tuhan, yah!


Pertanyaan: "Lo cinta dia ga?"
Jawaban: "Iya, but this time I managed not to fall too hard and too fast. I know how dangerous it is for me."
Kenyataan: Gue kaget banget ketika teman ini mengeluarkan pertanyaan iniiiiiiii. Pernah ngerasain kan kayak udah gak peduli, gak mikirin, gak kebayang sebenarnya cinta apaan, terus ditanya gitu. Hahaha. Jadi merasa perlu menilik dalam diri lagi.


Pertanyaan: "What makes people forgive? And how to forgive ourselves?"
Jawaban: "I've been having a hard time to learn to forgive too. But, maybe, reappraisal, 'bertukar sepatu' dengan orang tersebut. To answer the latter question, I often make myself busy and tired so when I get home, it's already late to blame myself. Finding new hobbies and joining courses also help me to recover. Remember when I took brush lettering course last year?"
Kenyataan: Hhhhhhhhhhhhhh. Ini nih yang susah banget. Gue sampai pada titik dimana gue pikir "Fak lah! Bodo amat, gue gak mau maafin lo, karena lo memang gak pantes dimaafin!" Gue tau kerugiannya ada di gue sih, tapi gue belum rela memberi maaf gue. I learn to forgive but I also learn that the nicest people are more likely to hurt others.


Pertanyaan: "Lo gak bisa tidur karena galau, atau galau jadi gak bisa tidur?"
Jawaban: "Apa sih maksudnya?"
Kenyataan: Dua-duanya!


Pertanyaan: "Apakah kamu percaya, setiap orang akan menemukan jodohnya yang terbaik? Mungkin atau pasti?"
Jawaban: "Mungkin"
Kenyataan: Sama dengan jawaban. Waktu itu sih diberi ceramah 10 menit yang pernah gue tulis di post ini.


Pertanyaan: "Gimana cara kamu move on padahal ketemu tiap hari?"
Jawaban: "Ketemu yang baru, apa pun itu ya. Hobi baru, mainan baru, temen baru, orang baru, komitmen baru. Ya pasti ada turning point-nya lah, dan sejak itu, langsung moving on sih."
Kenyataan: Butuh sekitar 1-2 tahun untuk gue memantapkan diri untuk berhenti mengetuk pintu yang tidak kunjung dibukakan sampai membuat orang-orang di sekitar gue ikut tersakiti. Sekali mantap, there was no turning back. Hal ini gue alami gak cuma sekali sih. Kalau udah berkomitmen untuk memulai/ mengakhiri sesuatu, I keep my word.


Pertanyaan: "5 tahun lalu, kenapa lo hilang gak ada kabar ninggalin gue?"
Jawaban: "Hahahahaha... Soalnya gue gak mau jadi the bad guy."
Kenyataan: Asli, gue ketawa duluan karena pertanyaan ini ternyata masih ditanyakan 5 tahun kemudian. Speechless. Kenyataannya, gue gak mau ambil risiko, maka gue pergi.


No comments: